Jumat, 25 Maret 2016

Penalaran Dalam Karangan

1. Aspek Penalaran Dalam Karangan

Penalaran adalah proses berpikir yang bertolak dari pengamatan indera (pengamatan empirik) yang menghasilkan sejumlah konsep dan pengertian. Berdasarkan pengamatan yang sejenis juga akan terbentuk proposisi-proposisi yang sejenis lalu disimpulkan menjadi proposisi yang baru yang belum pernah di ketahui.

Dalam penalaran, proposisi yang dijadikan dasar penyimpulan disebut dengan premis (antesedens) dan hasil kesimpulannya disebut dengan konklusi (consequence).

1.1 Kegiatan Menulis sebagai Proses Bernalar

Menulis merupakan proses bernalar. Untuk menulis mengenai suatu topik kita harus berpikir, mcnghubung-hubungkan berbagai fakta, membandingkan dan sebagainya Pada saat berpikir untuk membuat suatu karangan secara tidak sadar kita akan melakukan proses bernalar.

1.2 Aspek Penalaran dalam Karya Ilmiah

Suatu karangan sesederhana apapun akan mencerminkan kualitas penalaran seseorang. Penalaran itu akan tampak dalam pola pikir penyusuan karangan itu sendiri. Penalaran dalam suatu karangan ilmiah mencakup 5 aspek. Kelima aspek tersebut adalah:

1. Aspek Keterkaitan

Bagian-bagian dalam karangan ilmiah harus berkaitan satu sama lain. Pada pendahuluan misalnya, antara latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan dan manfaat harus berkaitan. Rumusan masalah juga harus berkaitan dengan bagian landasan teori, pembahasan, dan harus berkaitan juga dengan kesimpulan.

2. Aspek Urutan

Suatu karangan ilmiah harus mengikuti urutan pola pikir tertentu. Pada bagian Pendahuluan, dipaparkan dasar-dasar berpikir secara umum. Landasan teori merupakan paparan kerangka analisis yang akan dipakai untuk membahas. Baru setelah itu persoalan dibahas secara detail dan lengkap. Di akhir pembahasan disajikan kesimpulan atas pembahasan sekaligus sebagai penutup karangan ilmiah.

3. Aspek Argumentasi

nalisis terhadap fakta, pembuktian suatu pernyataan, dan kesimpulan dari hal yang telah dibuktikan. Hampir sebagian besar isi karangan ilmiah menyajikan argumen-argumen mengapa masalah tersebut perlu dibahas (pendahuluan), Pendapat dan analisis harus didapatkan secara lengkap agar tidak terjadi kesalahan.

4. Aspek Teknik Penyusunan

Pola penyusunan yang digunakan harus konsisten. Karangan ilmiah harus disusun dengan pola penyusunan tertentu, dan teknik ini bersifat baku dan universal. Untuk itu pemahaman terhadap teknik penyusunan karangan ilmiah merupakan syarat mutlak yang harus dipenuhi jika orang akan menyusun karangan ilmiah.

5. Aspek Bahasa

Penggunaan bahasa yang tidak tepat justru akan mengurangi kadar keilmiahan suatu karya sastra lebih-lebih untuk karangan ilmiah akademis.

2. Penalaran Deduktif

Pola penalaran deduktif diawali dengan cara mengemukakan pernyataan yang umum lalu diiukit dengan pernyataan -pernyataan khusus.

Berikut penjelasan dari bentuk penalaran deduktif.

2.1 Silogisme

Silogisme merupakan proses pengambilan simpulan yang dilakukan dengan cara mengungkapkan terlebih dahulu pernyataan yang bersifat umum atau premis umum. Kemudian disusul dengan pernyataan khusus atau premis khusus.

2.2 Entimen

Silogisme ini jarang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam tulisan maupun tulisan. Yang dikemukakan hanya premis minor dan kesimpulan. Entimen atau Enthymeme berasal dari bahasa Yunani “en” artinya di dalam dan “thymos” artinya pikiran adalah sejenis silogisme yang tidak lengkap, tidak untuk menghasilkan pembuktian ilmiah, tetapi untuk menimbulkan keyakinan dalam sebuah entimem, penghilangan bagian dari argumen karena diasumsikan dalam penggunaan yang lebih luas, istilah “enthymeme” kadang-kadang digunakan untuk menjelaskan argumen yang tidak lengkap dari bentuk selain silogisme.

3. Penalaran Induktif

Pola penalaran induktif merupakan penalaran yang dimulai dari pengungkapan hal -hal yang khusus, kemudian ditarik suatu simpulan yang bersifat umum. Pola -pola penalaran induktif ini terdiri dari pola yang meliputi :

Berikut adalah penjelasan dari pola penalaran induktif :

3.1 Generalisasi

Generalisasi merupakan pengambilan simpulan umum yang berdasarkan pada fakta dan data yang bersifat khusus. Data dan fakta ini diperoleh melalui penilaian, pengamatan atau pun hasil survey.

3.2 Sebab -sebab -akibat

Pola ini dimulai dengan mengemukakan fakta -fakta yang menjadi sebab. Kemudian ditarik simpulan yang merupakan akibat.

3.3 Akibat -akibat -sebab

Pola ini dimulai dengan mengungkapkan fakta -fakta yang merupakan akibat, kemudian dikemukakan peristiwa yang menjadi penyebabnya.

3.4 Analogi

Analogi merupakan pola pengambilan simpulan yang dilakukan dengan mengambil kesamaan dari suatu hal yang diperbandingkan. Biasanya, dua hal atau lebih yang dibandingkan dianggap memiliki kesamaan sifat dasarnya.

Sumber :
  1. .https://www.google.co.id/url sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=3&cad=rja&uact=8&ved=0ahUKEwj2k8-dvdvLAhXPkY4KHbEjDNUQFggoMAI&url=http%3A%2F%2Fmasyitohrahmiwindarti1803.blogspot.com%2F2015%2F11%2Faspek-penalaran-dalam-karangan-ilmiah.html&usg=AFQjCNGwL6b20R5HtN_PAWGncLqxmu6m3g&sig2=mMDX4Y7draKP33OtAOHYvg&bvm=bv.117868183,d.c2E
  2. https://www.academia.edu/11790262/Makalah_Bahasa_Indonesia_-_Penyusunan_Karya_Ilmia
  3. https://id.wikipedia.org/wiki/Penalaran
  4. http://www.porosilmu.com/2016/02/penalaran-deduktif-dan-induktif.html
  5. https://thekicker96.wordpress.com/penalaran-deduktif/